Sabtu, 29 Desember 2018

Irwasda Polda Kepri : Pengecekan Pos Pengamanan dengan Bersepeda

Tribratanews.polri.go.id – Tanjung Pinang. Irwasda Polda Kepri, Kombes Pol. Purwolelono, S.I.K., M.M. menunjukkan bahwa pekerjaan pun bisa dilakukan sambil berolah raga.
Irwasda Polda Kepri mengendarai sepeda Saat melakukan pengecekan pos pengamanan Pelayanan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di wilayah Polres Tanjungpinang.
Pengecekan Pos dengan menggunakan sepeda dan di ikuti kurang lebih personel Anggota Kepolisian Polda Kepri dan Polres Bintan yang dilaksanakan siang tadi.
Cara unik ini dilakukan oleh Irwasda Polda Kepri bertujuan untuk mengawasi kinerja aparat kepolisian yang bertugas untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru di Tanjungpinang.
Bike to work ini dilakukan Irwasda Polda Kepri pada hari Kamis (27/12/18) mulai pukul 10.30 WIB.
Irwasda Polda Kepri didampingi Wakapolres Tanjungpinang Kompol Sujoko, S.I.K., M.H. beserta sejumlah Pejabat Utama (PJU) Polres Tanjungpinang.
Rombongan pesepeda ini meninjau sejumlah pos pengamanan. Yakni Pos Pengamanan Ramayana Jalan Wiratno, Pos Pengamanan Laman Bunda Jalan Hangtuah, Pos Pelayanan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pos Pengamanan Rimba Jaya Jalan Gudang Minyak dan Pos Pengamanan Batu 10 Jalan DI Panjaitan.

Kamis, 27 Desember 2018

Democratic Policing" dan Keamanan Nasional

Kamis, 27 Desember 2018 - 06:36 WIB
Democratic Policing dan Keamanan Nasional
Direktur Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung, Muradi. Foto/KORAN SINDO
Muradi 
Direktur Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung


DALAM setahun terakhir wacana Perpolisian Demokratik (Democratic Policing) menguat dan menjadi pembicaraan di institusi keamanan, baik TNI, Polri, maupun Badan Intelijen Negara (BIN) serta para peneliti dan kajian pertahanan dan keamanan. Bahkan dengan bantuan media sosial, wacana democratic policing tersebut viral ke banyak grup komunikasi dan keluar dari konteks democratic policing itu sendiri.
Bahkan, karena berdekatan dengan pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, wacana democratic policing dibaca dan dipahami secara liar sebagai upaya dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk menempatkan posisinya di semua level, mulai yang strategis hingga tahapan teknis. Hal tersebut menyudutkan Polri yang dianggap akan mengubah paradigma dan esensi keamanan nasional, yang mana kewenangan keamanan dan pertahanan sudah menjadi domain masing-masing institusi.
Padahal, konsep democratic policing secara harfiah adalah upaya mengintegrasikan institusi kepolisian dalam sistem demokrasi. Mengubah paradigma anggota kepolisian agar selaras dengan nilai-nilai demokrasi, menghormati hak asasi manusia (HAM), melindungi kebebasan berserikat, media yang lebih bebas. Bratton (1999) menegaskan, democratic policing terimplementasi dengan baik apabila peran kepolisian merupakan cerminan dari konsensus sosial, yang merupakan bagian dari sistem demokrasi. Artinya, democratic policing adalah bagian dari perubahan paradigma personel kepolisian, bukan mengubah paradigma dan esensi keamanan nasional sebagaimana yang kemudian diinterpretasikan secara liar.

Hakikat dari democratic policing adalah perubahan paradigma personel dan kemudian diikuti oleh penyesuaian institusi kepolisian agar dapat selaras dengan nilai dan sistem demokrasi. Di mana sebagai bagian dari institusi sipil, Polri dihadapkan berupaya untuk menguatkan paradigma demokratik di internal, agar dapat selaras dengan langkah gerak dari pemerintahan sipil. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam UU No 2/2002 tentang Polri, Pasal 2 bahwa Polri menjalankan salah satu fungsi pemerintahan bidang keamanan yang mana tetap mengacu pada fungsi pemerintahan hasil pemilihan yang demokratik.

Karena itu, secara harfiah, wacana democratic policing justru menguatkan paradigma dan esensi keamanan nasional, bukan untuk menggeser peran aktor dan atau mengubah paradigma dan esensi keamanan nasional yang ada selama ini. Hal itu semata-mata adalah perubahan paradigma personel kepolisian dari paradigma lama kepada paradigma kepolisian demokratik yang tunduk dan patuh pada otoritas sipil beserta nilai-nilai yang ada di dalamnya. Perdebatan peran dan fungsi TNI dan Polri yang mengemuka pasca-pemisahan kedua institusi tersebut tuntas saat kedua institusi tersebut fokus pada peran dan fungsinya, Polri fokus pada Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) dan TNI lebih kepada peran dan fungsi pertahanan negara.

Namun demikian, pembagian peran dan fungsi tersebut, isu tentang upaya masing-masing institusi untuk berupaya mengambil peran dan fungsi yang bukan menjadi bagiannya terus mengemuka hingga saat ini. Tak heran apabila kemudian wacana democratic policing dikemas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab seolah-olah ada ambisi besar Polri untuk mengubah paradigma dan esensi dari keamanan nasional, yang mana akan mereduksi peran dan fungsi TNI sebagai bagian dari perubahan paradigma tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Polri, berkaitan dengan keberadaan dan posisi Polri di bawah langsung presiden yang terus dipertanyakan. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang tidak ingin agar TNI dan Polri dapat berbagi peran dalam menjaga dan merawat Indonesia, termasuk wacana democratic policing yang dikemas seolah akan mengubah paradigma dan esensi keamanan nasional.

Ada tiga hal yang menegaskan bahwa democratic policing adalah perubahan paradigma personel Polri agar dapat selaras dengan nilai dan sistem demokrasi untuk memperkuat bingkai keamanan nasional, yakni pertama, wacana democratic policing tidak menawarkan gambaran lintas institusi sebagaimana paradigma dan esensi keamanan nasional, ini lebih pada batasan dan arahan agar personel kepolisian menjalankan aktivitasnya dengan nilai dan bingkai demokratik.
ADVERTISEMENT

Kedua, democratic policing tidak bersifat menyeluruh dan mengikat semua institusi keamanan. Sebagaimana namanya, democratic policing hanya melingkupi institusi kepolisian dan personel di dalamnya. Karena itu, jika kemudian mengemuka wacana democratic policing adalah upaya Polri untuk bisa menempatkan personelnya di semua level dari yang strategis hingga operasional adalah tidak benar. Betapa pun hal tersebut dirasionalisasi, namun jika hal tersebut dilakukan, maka hal tersebut berlawanan dengan esensi dari democratic policing itu sendiri. Karena itu, menjadi janggal jika wacana democratic policing tersebut dipahami sebagai upaya Polri untuk menguasai semua posisi strategis ataupun operasional.

Ketiga, konsep democratic policing menentang tumpang tindih peran institusi. Sebab, democratic policing mensyaratkan profesionalisme dalam menjalankan peran dan fungsinya. Karena itu, tumpang tindih dan perluasan peran akan membuat kontrol dan pengawasan kepolisian tidak efektif. Sebagaimana penamaannya, democratic policing adalah bagian dari integrasi dan reintegrasi institusi serta personel kepolisian agar bisa mengacu pada nilai-nilai demokratik dalam menjalankan peran dan fungsinya.

Selasa, 25 Desember 2018

Kapolri dan Panglima TNI Laksanakan Pengecekan Pengamanan Malam Natal 2018 di Gereja Katedral Jakarta Pusat

Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhamad Tito Karnavian PhD dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengunjungi Gereja Katedral, Jakarta Pusat. Keduanya datang untuk memantau keamanan selama pelaksanaan ibadat Malam Natal 2018, Senin (24/12/2018)
Adapun jumlah personel yang mengamankan Gereja Katedral Jakpus sebanyak 106 personel Polri dibantuan dari TNI, Pemda, Satpol PP, satu unit Jibom untuk sterilisasi dan satu pleton pasukan antianarkis.
Pihak Katedral juga menyiapkan tenaga pengamanan sebanyak 110 orang. Gereja katedral Jakpus melaksanakan misa hari ini sebayak 3 kali Misa I – 17.00 WIB, Misa II – 20.00 WIB dan Misa III – 22.00 WIB.(hy/bs)

Rabu, 19 Desember 2018

Pelatihan Public Speaking Pada Konsolidasi dan Anev Humas Polri Tahun 2018


tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H., mengundang Alvin Adam School of Communication untuk memberikan pelatihan public speaking guna meningkatkan kemampuan para peserta Konsolidasi dan Anev Humas Polri Tahun 2018.
Seluruh peserta yang terdiri dari Kabid Humas Polda se-Indonesia diberikan pelatihan public speaking oleh Alvin Adam dan Candra Dewi di Goodrich Hotel, Jakarta, Kamis (20/12).
Para Kabid Humas Polda se-Indonesia dilatih bagaimana caranya berkomunikasi yang baik, sekaligus diajari teknik body language yang wajib dikuasai agar para peserta terlihat profesional di hadapan orang banyak dan kamera.
Pejabat Utama Divisi Humas Polri turut hadir dalam kegiatan pelatihan public speaking yang diberikan oleh Alvin Adam Shcool of Communication tersebut.

Selasa, 18 Desember 2018

Kapolri Buka Sidang Pleno Wandiklat Polri TA 2018

Kabarpolri.com – Jakarta, Kapolri Jenderal Pol Prof. H. M. Tito Karnavian., Ph.D membuka sidang Pleno Wandiklat Polri TA. 2018 di Rupattama Mabes Polri, Selasa (18/12/2018) pukul 08.00 WIB.
Kalemdiklat menyampaikan tentang kegiatan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Lemdiklat Polri mulai dari kegiatan pelatihan kepada personel Polri,  penyusunan kurikulum terutama untuk Diktubrig di wilayah perbatasan,  pemberian serifikasi,  pembangunan gedung dan SPN Malut,  Sulbar dan Kaltara.
“Selain itu juga menyampaikan kesiapan kenaikan tipe pusdik brimob serta akan dilaksanakan renovasi gedung serbaguna dan rumdin pusdik brimob serta telah dilaksanakan kegiatan untuk perubahan kultur di lingkungan lemdiklat Polri dan Polda.
Dalam sambutanya Kapolri Jenderal Pol Prof. H. M. Tito Karnavian., Ph.D
menyampaikan bahwa Polri merupakan Polisi terbesar kedua setelah China,  yang dimana SDM menjadi kunci bagi keberhasilan organisasi Polri, sehingga perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan yang baik, lanjut Kapolri Oleh karena itu Kapolri mengajak kepada para pimpinan dan jajaran lemdiklat serta stake holder untuk bersama sama meningkatkan education bagi anggota Polri.
“Rekrutmen anggota Polri harus dilaksanakan dengan benar,  bila dilaksanakan dengan salah akan memberikan dampak 75% kesalahan bagi institusi Polri,” imbuh Kapolri.
“Selain itu, Rekrutmen agar dilaksanakan secara dinamis dengan melihat kebutuhan dan perkembangan global, Serta Rekrutmen juga dapat dilaksanakan untuk membangun jaringan dengan melaksanakan perikrutan terhadap anak dari ketua suku,  tokoh adat,  tokoh agama dan tokoh masyarakat yang sebelumnya diberikan bimbingan yang anggaranya akan disiapkan dari Asrena Polri serta untuk kurikulum agar dilakasanakan secara dinamis dengan melihat kebutuhan dan tantangan yang ada untuk menciptakan Polisi sipil / sipil berseragam tetapi tetap memperahankan postur para militer khusus untuk Brimob dan tidak boleh terjadi kekerasan dilingkungan pendidikan, serta kurikulum diskresi untuk ditingkatkan kembali dengan memperbanyak berdiskusi”, jelas Kapolri.
Pada saat itu juga, Kapolri menyampaikan beasiswa LPDP bagi Polri masih banyak yang belum terisi sehingga harus diberikan pelatihan pelatihan agar kuota terpenuhi semua yang dimana kedepan akan menjadi agen of change bagi Polri dan untuk pembangunan sarana prasarana dilaksanakan secara bertahap bila perlu laksanakan koordinasi dengan pemda atau CSR untuk memberikan hibah.
Pada akhir sambutanya, Kapolri memberikan apresiasi kepada jajaran lemdiklat atas prestasi dan terobosannya selama ini serta diharapkan agar terus meningkatkan kerjasama dengan mitra Polri dan instansi terkait.
Turut hadir dalam acara ini Irwasum Polri, Komjen Pol Drs. Putut Eko Bayuseno, S.H., beserta Pejabat Utama Mabes Polri; Pejabat di Lingkungan Jajaran Lemdiklat Polri; Para Wakapolda Jajaran; Para Karo SDM dan Ka SPN Polda serta perwakilam Mitra Polri dari ICITAP, JICA dan IOM.(hy/budi s)

Senin, 17 Desember 2018

Kapolri Dorong Anggota Humas Polri Selalu Aktif, yang Berprestasi Dijanjikan Ini

Puteranegara Batubara , Okezone  Senin 17 Desember 2018 22:38 WIB
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

A A A
6
TOTAL SHARE
JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan, telah menyiapkan strategi reward and punishment bagi personel Polri yang bertugas di Satuan Kerja (Satker) Divisi Humas. Hal tersebut akan memacu prestasi dan kinerja yang maksimal antaraparat penegak hukum.
Tito menegaskan, apabila ada anggota yang berprestasi, maka akan diberikan tiket sekolah atau promosi jabatan ke tahap yang lebih tinggi.
"Humas yang aktif betul, akan diberi ticket holderuntuk sekolah atau promosi," ujar Tito di Rapat Konsolidasi dan Anev Tim Mulitimedia Humas Polri 2018, Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/12/2018).
Namun di sisi lain, Tito menyebut, apabila anggotanya yang bekerja di Satker Humas tak maksimal, maka dia akan memberi hukuman.
Kapolri menuturkan pentingnya peran humas untuk mengelola kondusivitas dan stabilitas keamanan. "Sebaliknya punishment untuk yang ogah-ogahan. Saya tidak usah sebut punishment itu apa," tutur Tito.
Kapolri Tito Karnavian.
ADVERTISEMENT
Penilaian terhadap Satker Humas yang berprestasi diserahkan kepada Kepala Divisi Humas Brigjen Mohammad Iqbal. "Seluruhnya saya serahkan ke Pak Iqbal," ucap dia.
Tito berharap agar Divisi Humas Polri dikembangkan sehingga menjadi besar. Keinginan itu disampaikan langsung kepada Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Putut Eko Bayu Seno, Asisten Kapolri bidang SDM (As SDM) Irjen Eko Indra Heri, Kadiv Propam Polri Irjen Listyo Sigit yang juga turut hadir dalam acara.
"Saya minta kepada Pak As SDM, Kadiv Propam, Pak Irwasum, saya selaku pimpinan Polri, untuk membesarkan Humas Polri," tutur Tito.
"Bukan kita ingin menganakemaskan humas, tapi kita tidak bisa lepas dari era keterbukaan. Tidak berlebihan kalau humas kita besarkan dan perkuat," kata Tito mengkahiri.

Berprestasi, Humas Polri Dapat Tiket Sekolah dan Promosi Jabatan

Senin, 17 Desember 2018 - 18:04 WIB
Berprestasi, Humas Polri Dapat Tiket Sekolah dan Promosi Jabatan
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan pengarahan kepada peserta Rapat Konsolidasi dan Anev Tim Mulitimedia Humas Polri 2018 di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Senin (17/12/2018). Foto/SINDOnews/ M Yamin
JAKARTA - Personel Polri yang bertugas di satuan kerja (satker) humas diminta memaksimalkan tugas dan fungsinya. Jika berprestasi, mereka akan diberi tiket sekolah atau promosi jabatan.

"Humas yang aktif betul, akan diberi tiket untuk sekolah atau promosi jabatan," kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di depan peserta Rapat Konsolidasi dan Anev Tim Mulitimedia Humas Polri 2018 di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/12/2018).



Sebaliknya, jika anggota bekerja tak maksimal akan diberi hukuman. Kapolri menuturkan pentingnya peran humas untuk mengelola kondusivitas dan stabilitas keamanan. "Sebaliknya punishment untuk yang ogah-ogahan. Saya tidak usah sebut punishment itu apa," ujarnya.

Tito juga mengungkapkan keinginannya agar Divisi Humas Polri dikembangkan sehingga menjadi besar. Keinginan itu disampaikan langsung kepada Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Putut Eko Bayu Seno, Asisten Kapolri bidang SDM (As SDM) Irjen Eko Indra Heri, Kadiv Propam Polri Irjen Listyo Sigit yang juga turut hadir dalam acara.
ADVERTISEMENT

"Bukan kita ingin menganakemaskan Humas, tapi kita tidak bisa lepas dari era keterbukaan. Tidak berlebihan kalau humas kita besarkan dan perkuat," sambung Tito.

Kapolri: Humas Jadi Fungsi Utama Ke-6 Polri

tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Kapolri, Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D., menegaskan bahwa Humas menjadi fungsi utama Polri yang keenam. Hal ini disampaikan Kapolri saat membuka Rapat Konsolidasi dan Anev Humas Polri Tahun 2018 di hadapan Pejabat Utama Mabes Polri dan Kabid Humas Polda se- Indonesia.
Kegiatan yang juga dihadiri Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H., tersebut dilaksanakan di Rupatama, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (17/12).
Pernyataan Kapolri tersebut berkaitan dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat membuat Divisi Humas Polri dituntut untuk bisa memperkuat sistem informasi, sistem komunikasi dan manajemen media.
Kapolri mengatakan, “Betapa pentingnya peran Humas ini, sehingga tidak berlebihan dua tahun lalu saya pernah menyampaikan kalau di Polri ada lima fungsi utama yakni Reserse, Intel, Sabhara, Lantas dan Binmas. Maka saat ini saya berpikir bahwa Humas menjadi fungsi utama yang ke-enam di tubuh Polri”.
Kapolri menambahkan, “Humas Kepolisian harus senantiasa bisa bekerja sama dengan media, baik formal maupun informal. Kerja sama juga harus dijalin dengan baik dengan media konvensional maupun mainstream.”
Kapolri mengungkapkan bahwa informasi mengenai Kepolisian mendapatkan perhatian lebih dari publik, seperti penangkapan terkait kriminalitas, penangkapan terorisme, pengungkapan narkotika atau informasi terkait keributan.
“Saya berharap Divisi Humas Polri mengelola isu-isu yang beredar di masyarakat, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi institusi Polri,” ungkap Kapolri.
Kapolri menambahkan, “Fungsi Humas Polri sudah baik dan harus ditingkatkan lagi baik dari segi rekrutmen dan pembinaan karier.”
“Rekrutmen Humas Polri harus memiliki kualitas, jaringan yang luas dan kompetensi yang bagus,” ucap Kapolri di hadapan Pejabat Utama Mabes Polri dan Kabid Humas Polda se-Indonesia yang hadir di Rupatama.