Kapolri Sempat Undang para Dubes, Sampaikan Kondisi Indonesia Kondusif

Iwan Sutiawan
25-05-2018 13:57
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bertemu dengan sejumlah Dubes negara sahabat. (Dok. Polri/FT02)Artikel Terkait
- Penyematan Topi Papua kepada Menhan: Lambang Diangkatnya Menjadi Anak Adat Skow-Wutung
- DPR Usulkan Pelaksanaan Hukuman Mati Jangan Hanya di Nusakambangan
- Menlu: Indonesia Tak Berkonflik Dengan Tiongkok
- Golkar Bantah Kabar Akan Tarik Dukungan untuk Ahok
- Komnas Anak Minta Terduga Cabul di Mapolda Sulut Mengaku
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra.com di Jakarta, Jumat (25/5), sempat mengundang sejumlah duta besar (dubes) berbagai negara untung menghadiri acara di Mabes Polri.
Dalam pertemuan tersebut, Tito menyampaikan kepada para dubes dari berbagai negara sahabat bahwa kondisi keamanan Indonesia saat ini sangat terkendali. Ia mengajak seluruh pihak untuk mencegah dan memerangi terorisme.
Menurut Tito, terorisme merupakan tindak kejahatan kemanusiaan luar biasa dan fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga internasional karena juga terjadi di sejumlah negara.
Adapun beberapa aksi terorisme di Indonesia beberapa waktu lalu, lanjut Tito, kareba adanya perintah dari Islamic State in Irak and Syria (ISIS), karena posisi mereka yang sudah terdesak. Kondisi itu kemudian meminta seluruh sel-sel jaringannya untuk bergerak serentak.
"Rangkaian teror bom ini merupakan aksi yang diminta oleh ISIS yang saat ini terdesak, teror dilakukan serentak tak hanya Indonesia beberapa negara juga telah terjadi pemboman," kata Tito.
Tito menjelaskan, motif di balik aksi teror bom ini diduga karena di tingkat internasional ISIS ditekan oleh kekuatan baik dari barat seperti Rusia dan negara lainnya. Sehingga, keadaan terpojok dan memerintahkan semua jaringan untuk melakukan serangan pada seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Di Indonesia sendiri, lanjut Tito, ada dua kelompok terkait dengan ISIS yang menjadi ancaman. Pertama, kelompok sel-sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Ansharut Tauhid (JAT). Beberapa di antara mereka ada yang kembali berangkat ke Suriah atau tertangkap oleh otoritas Jordania dan Turki atau sekitar Suriah.
Menurutnya, ada sekitar 1.100 lebih yang pergi ke Suriah. Kemudian yang dideportasi ke Indonesia berjumlah 500 lebih. "Ini menjadi tantangan bersama karena mindset mereka adalah ideologi ISIS," ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar